Jumat, Mei 10, 2013

...

23.00, waktu daerah tempat menetapku...

Diam...
...sambil online dan nonton, sesekali aku menengok hapeku yang sementara di charge, yang terletak di atas sajadah yang biasa digunakan sebagai alas setrika oleh teman-temanku. Sudah 4 jam dia terletak disitu, diam tak bersuara. Energi yang dibutuhkannya pun sepertinya sudah 100% penuh sejak 2 jam tadi. Aku memang tidak menunggunya full untuk kugunakan, aku hanya menunggu nada dering spesial yang sudah aku atur sebagai notifikasi bahwa sebuah pesan masuk dari seorang yang kuanggap spesial, yang pada akhirnya melupakanku.

Terlupakan...
...itulah mungkin yang aku rasakan selama beberapa hari ini. Hapeku tidak berbunyi dengan nada dering spesialnya menjadi indikator penting akan hal itu. Begitupun dengan nada pesan aplikasi-aplikasi hape modern yang menghiasi hapeku akibat dari perkembangan jaman, pun sama sekali tidak berbunyi seperti dulu kala. Entah apa yang telah dilakukan oleh hapeku, entah kesalahan dan dosa apa yang telah dilakukannya, sehingga dia dilupakan begitu saja.

Hapeku...
...yah, itulah dia. Hasil jerih payahku, hasil keringatku. Setelah menyelesaikan kuliah 4 tahun, setelah mendapatkan job dari dosen, barulah aku bisa menggenggamnya. Tak ada yang spesial mungkin dengan hapeku, hanya warnanya yang putih yang cukup elegan, serta beberapa aplikasi menarik didalamnya. Tapi, dia bukan sekedar hape, dia adalah penyambung silaturahmi diriku dengan dirimu. Dia yang membuat aku bisa memiliki rasa kepadamu. 

Rasanya...
...semua terjadi begitu cepat. Sangat cepat. Aku dan kamu bertemu, rasa kagum ku terhadap dirimu begitu kuat, begitu besar, seakan aku tak dapat menghindari nya. Aku merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang berbeda dari hari-hari biasa nya sebelum aku mengenal sosok dirimu. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna saat sosok dirimu merasuk ke dalam kehidupan yang sebelum nya hanya berteman dengan sepi. Tak ada percakapan yang biasa saat aku dan kamu saling melontarkan selentingan perhatian disetiap obrolan kita. Seakan semua ajaib dan sangat luar biasa. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan. Perasaan ini berkembang melebihi batas yang kutahu, dari perasaan awal kita bertemu.
  
Awalnya...
...hanya perasaan suka yang biasa. tapi, perasaan ini berkembang di luar batas kemampuanku, berkembang menjadi rasa takut kehilangan, takut ada orang lain yang akan membuat kamu tersenyum, dan takut pada akhirnya aku lah yang akan kamu lupakan. Aku mulai menyukaimu tanpa sepengetahuan mu, iya mencintaimu  secara diam-diam. Aku membiarkan semuanya mengalir begitu saja, membiarkan perasaanku menikmati kedekatan kita saat ini yang entah harus aku sebut dengan status apa, menikmati setiap obrolan yang menimbulkan tawa disetiap percakapan kita, menikmati setiap pesan singkat yang saling kita antarkan satu sama lain, dan aku sangat menikmati saat aku berada sangat dekat dengan mu. Aku tak bisa dengan gamblang menunjukan perasaan ini, aku tak bisa menuntut mu untuk memberi kejelasan, aku tak seberani itu. Kamu seharusnya bisa mengerti apa yang aku perlihatkan dari tatapan mata, apa yang aku tunjukan lewat gerak tubuhku, dan apa yang aku sampaikan lewat pesan-pesan singkat ku. Seharusnya kamu tahu, ada perasaan yang berkembang disini. Cinta, saat semua percakapan kita yang menghasilkan gelak tawa, setiap pertemuan kita, aku merasakan aku bisa sedikit mencicipi menjadi seseorang yang kamu anggap istimewa di hidup mu. Aku terlalu banyak diam dan memendam, mungkin disitulah kesalahanku, terlalu egois mengatakan dan terlalu takut mengungkapkan, aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa tak bisa mengambing hitamkan siapapun. Cinta tak pernah salah bukan?

Tapi... 
...apa yang aku rasakan? Aku masih menikmati saat-saat kamu sendiri dan tersenyum ikhlas untukku, walaupun senyum hambar yang aku dapatkan tanpa perasaan apapun. Apa aku yang terlalu percaya diri menganggap semua perlakuanmu menunjukkan kamu menyukaiku. Batinku berteriak, bodoh! Aku memang bodoh, sudah jelas-jelas terdengar dengan telingaku sendiri aku mendengarmu mengatakan kalau kamu masih sangat mencintai kekasihmu, sudah jelas-jelas terlihat dengan mataku sendiri bahwa kamu memiliki sosok lain yang kamu andalkan dan kamu kagumi. Dan aku mulai mencoba menjadi munafik, ya lagi, lagi, dan lagi aku menikmati kemunafikanku. Biarlah! Hanya Tuhan yang tahu alasan aku menjadi orang munafik, dan aku sungguh menikmati setiap pelajaran dari mereka untuk menyakiti diri ku sendiri. Bodoh? ya jelas aku BODOH! 

Bodohkah aku?...
...entahlah. aku hanya ingin bersamamu, hanya itu. Tapi, sudahlah. Biar kamu bahagia dengan pasanganmu. Biar kamu bahagia dengan sosok yang kamu kagumi itu. Mungkin takdir Tuhan menginginkan aku untuk mendapatkan sosok yang lebih baik dari sosokmu. Aku munafik? Ya, memang lagi lagi kemunafikanku aku munculkan di saat-saat seperti ini. Kalau tidak menjadi orang munafik lalu mau menjadi orang seperti apa aku? Aku sakit, sungguh aku sakit, aku ingin semua ini berakhir, cukup sampai di sini aku ingin merasakan sakitnya. Aku hanya berharap tuhan mencabut rasa sakit ini.

Sadar...
...ketika semua kembali normal, ketika hatiku jernih untuk berpikir, ketika otakku kembali bisa merespon sinyal-sinyal positif, aku pun tersadar akan semua ini. aku kembali mengingat aqidahku yang melarangku untuk berbuat lebih jauh. aku kembali mengingat segalanya yang apa bila aku bertindak lebih jauh, itu hanya akan menjatuhkanku ke lembah yang lebih dalam. Aku senang dengan keadaanku saat ini, mencintaimu diam-diam, memendam rasaku, melihatmu bahagia, melihatmu senang, tersenyum di kejauhan, serta selalu mengawasimu dari sisi gelapku. (End)


Ingat !!! Kalo jodoh, kita pasti bertemu lagi. Jodohmu yang sekarang, belum pasti pendampingmu. hheheh... ^^v

 Hopeless -_-

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 QadryQade'
Theme by Yusuf Fikri