Jumat, November 01, 2013

Teror Uang Pannaik Perempuan Bugis Masa Kini !





Kenapa saya mau nulis tentang hal ini ? tidak lain dan tidak bukan karena umur saya sudah lebih dari kepala 2, seperti halnya sunnah rasul, sudah selayaknya saya harus memikirkan tentang hal ini. Walaupun pada hakekatnya saya belum mau memikirkan hal ini. Hhaha

apa itu uang pannaik ? kenapa namanya uang pannaik ? Wajibkah uang pannaik itu ? berapa jumlah uang pannaik ?

Dalam tradisi ummat manusia, khususnya bagi kaum muslim, walimah atau nikah merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W. Terdapat syarat-syarat nikah sesuai ketentuan hadist Rasulullah S.A.W, seperti diantaranya adanya wali dan Ijab Kabul, serta beberapa hal sunnah Rasul seperti Mahar. Mahar merupakan pemberian sesuatu dari calon suami untuk calon istri. Pada zaman Nabi dahulu kala, pemberian ini bentuknya sederhana, ada yang berupa roti, kurma, bahkan ada yang hanya berupa hafalan-hafalan Al-Qur’an, yang tentunya ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W.
Zaman pun berubah, pemberian mahar pun bukan lagi merupakan suatu sunnah atau tidak dianjurkan, namun sudah menjadi syarat ataupun kewajiban dari suatu pernikahan. Bahkan yang dulunya mahar ini hanya sekedar pemberian sederhana, sekarang sudah berupa pemberian mewah, yang umumnya berupa uang dengan kadar dan nilainya sudah di tentukan.
Begitupun yang terjadi di salah satu bagian Indonesia, yaitu di daerah Sulawesi Selatan khususnya dalam masyarakat suku bugis. Dalam tradisi lamaran di masyarakat bugis, uang mahar lebih dikenal dengan istilah “uang pannaik”. Walau awalnya disamakan dengan uang mahar, namun perubahan kearifan lokal ke arah modernisasi, membuat sebagian masyarakat bugis membedakan uang mahar dan uang pannaik. “Uang pannaik ya uang pannaik, uang mahar laen lagi”, katanya.
Istilah uang pannaik saat ini lebih dikenal dengan uang belanja yang diberikan kepada keluarga calon istri. Nilai atau jumlah dari uang pannaik ini berbeda-beda di masyarakat bugis, tergantung adat istiadat keluarga, derajat / status ataupun standar yang “seperti biasanya” di masyarakat sekitar keluarga tersebut. Misalnya, di daerah (kabupaten) si Perempuan A, nilai uang pannaik-nya adalah 50 Juta, di daerah si B nilainya bisa 75 juta dan lain-lain. Atau misalnya jika si calon istri itu berasal dari keluarga bangsawan seperti Andi, ataupun keluarganya yang sudah mapan, dll, maka uang pannaik-nya pun bisa setinggi langit.
Mayoritas uang pannaik ini biasanya diumumkan di acara pernikahan, lewat speaker, dan dihitung di hadapan para undangan. Bahkan, uang pannaik adalah pertanyaan pertama yang diributkan ibu-ibu yang sedang gotong-royong mengurus ‘dapur’ dan menjadi masalah inti saat proses lamaran dilakukan.
Uang pannaik ini kemudian mnghadirkan penyakit baru. Laki-laki melihatnya sebagai tirai penghalang yang besar. Tak sedikit dari mereka lebih memilih ke perempuan-perempuan di luar Sulawesi, biasanya Jawa, yang tak meminta uang pannaik. Tak jarang pula perempuan bugis jadi perawan tua karena standar uang pannaik dari orang tua ataupun keluarganya yang terlalu tinggi. Konflik dua keluarga belakangan muncul dan nama kebesaran “uang pannaik” pun dikumandangkan di antara meja sidang perceraian.
Suatu peristiwa pernah terjadi di salah seorang senior saya, ia sangat kecewa dengan tingginya uang pannaik yang diwajibkan oleh keluarga si perempuan yang tak lain adalah pacarnya sejak 3 tahun yang lalu. Al-hasil dengan sangat berat dan kecewa senior saya memutuskan pacarnya. Senior sayapun berusaha tegar untuk mencari perempuan-perempuan yang tak telalu tinggi uang pannaik-nya. Di sisi lain pacarnya sudah menikah dengan pria mapan yang kaya. Sungguh tragis !
Ataupun pristiwa lainnya, dimana seorang lelaki yang saat proses lamaran dilakukan, ia dan keluarganya terpaksa pulang dengan kecewa. Kesepakatan awal uang pannaik-nya sekian, namun saat lamaran dilaksanakan, keluarga perempuan tiba-tiba menghiati kesepakan dengan alasan bla..bla..bla.
“belum nikah aja udah memeras, apalagi kalo udah!” kata si lelaki sambil meninggalkan rumah perempuan dengan sakit hati. Gimana mau sakinah mawaddah warahmah kalo awalnya aja udah sumpah serapah, peras-memeras, dan pamer kekayaan ? Sungguh kehidupanga, berubahnamo ! -_-
Oleh karena itu, bagi yang mau nikah hendaknya mikir-mikir dulu deh kalau mau nikahin perempuan bugis. Bukan berarti jangan nikahin perempuan bugis, ataupun semua perempuan bugis mewajibkan uang pannaik dengan setinggi langit. Namun hendaknya si calon suami harus mengetahui betul keadaan keluarga calon istrinya. Cantik, pintar, kaya itu relatif namun agama dan keimanan itu hendaknya diprioritaskan. Perempuan dan keluarga yang mengetahui betul tentang agamanya, insyaAllah tidak akan meminta hal-hal yang lebih yang tidak dianjurkan oleh sunnah rasul. Kalau sudah mencintai dijalan Allah, uang pannaik bukan suatu halangan. ^^
Terakhir, saran bagi laki-laki yang mau nikahin orang bugis, juga untuk saya sendiri, mulailah menabung dari sekarang. Kurangi jajan sembarangan seperti rokok bagi perokok, nongkrong gak jelas di mall, warnet, ataupun di tempat hiburan lainnya, perbanyak lah mencari uang yang halal dan tak lupa pula ibadah dan doa. Kalau sudah cinta, silahkan maju dan bertanggung jawablah, kalau tidak mampu, silahkan mundur perlahan dengan terhormat. 

dan kepada calon saya entah siapa dan dimana, kalau 5 juta ji uang pannaikku, tolong terimamo kamase ! hahhaa



 Tulisan beberapa dikutip dari catatan mbak Aliasyadi Mayaddah, didoakan semoga ia bisa melahirkan anak perempuan. hhehe

20 komentar:

Anonim mengatakan...

In Syaa Allah... heheheheee... ;)

@Qalbi

Anonim mengatakan...

Berarti kak qade mau cari di luar.. hehe

pratiwi wiwi mengatakan...

yang bisa saya simpulkan bahwa uang pannaiknya kak qade "5jt ji"..hahaha

Adi Supriadi mengatakan...

perlu negoisasi tingkat tinggi kalau 5 juta...hahaha

Anonim mengatakan...

hahaha... uang pannaik = jual anak kah??

Qadria Candra mengatakan...

Uang Pannaik ini yang bisa jadi faktor utama cowo untuk berfikir ulang kalo mau "serius" sama cewe Bugis *aduh

Munadry Aslam mengatakan...

uang pannaik nda ada msalah berapa pun jumlahnya.. asalkan adaji.. hahaha.. :P

Haryanti Putri Rizal mengatakan...

fiuhh pannaikk pannaikk -_-"

mnurmusa mengatakan...

Uang Pannaiknya 5 juta. Maharnya yang 100 juta. mantap :D

mhiel madden mengatakan...

Kalosaya sih melihatnya uang panaik itu sama dengan menjual anak...di jawa ga ada tuh yang seperti itu. Paling seserahan aja pas lamaran. Sesuai adat rasulullah. Tp apa daya, emang dasarnya orang bugis begitu. Hehehe.

Hasanuddin Jabir mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hasanuddin Jabir mengatakan...

Panaiki rongg.. Sedikiii moh

wawan lee mengatakan...

Punna tena doi'nu lari mko ke jawa, murah2... Tp punna tena doi'nu nabuang mko... Hahahahaha

rahmayanti rara mengatakan...

Ini mi yang bikin ka nda mau nikah pake adat bugis. . Mahal belah. Kasian ki nanti calon suami ku haha

Abdullah Khair mengatakan...

Masukan yg baik... mudah" orang bugis kedepan dpat mrubahx kembali sebagaimana anjuran Islam

ranran mengatakan...

hahaha....
masyaAllah. tulisan yang bagus.. :))

Ekha Saputra mengatakan...

ckkkk ...

Arief Rivai mengatakan...

Ayo pale kk bikin arisan uang panaik -_-

Mahar Pernikahan mengatakan...

Semoga pengetahuannya bermanfaat,
Bagi yang akan nikah, harus segera mengumpulkan mahar, hhe

oia salam kenal
Mahar Pernikahan
Pandaan

monica de wyga mengatakan...

ambil saja sisi positifnya. Sebagai laki laki dari suku manapun ya sudah seharusnya menabung dan bekerja keras entah itu untuk pernikahan, umrah, naik haji, dll. Percuma mengumpat.

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 QadryQade'
Theme by Yusuf Fikri