Jumat, November 15, 2013

Siapa Foto Kakek Dibalik Sampul Buku Iqro?




Aaa...
Baaa...
Taaa...
Ba ta tsa... 

Na Da Ma...

Mulut Sofyan dengan lancarnya membaca satu persatu huruf yang ada di IQRA' 3...  
Ia masih dengan lancarnya membaca huruf Hijayyah, walaupun tadi harus di marahin emaknya dulu supaya ia mau pergi ngaji -_- ...
Pemandangan ini sudah lama saya tak lihat sejak semester 3 dulu... 
Waktu itu Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk mengajar anak-anak mengaji dekat rumah...

Nah, ada yang masih ingat Buku IQRA' sewaktu kita kecil, jilid 1-6 ? (bagi yang gak pernah ngaji, pasti gak tau -_-), kalau kita balik, di belakang nya ada mars TK-TPA serta foto seorang kakek tua dengan memakai jaz serta dasi, tak lupa pula dengan kopiahnya. Siapakah dia? pertanyaan ini memang dulu tak muncul ketika zaman saya kecil, hanya melihatnya sepintas, namun ketika mengajar, selalu bertanya-tanya, siapakah beliau ? ternyata tak lain ialah "Pengarang Iqra' tersebut". Semoga pahala terus mengalir untuk beliau, karena kita sekarang sudah lancar mengaji. Beliau adalah K.H. As’ad Humam. Sesekali, kita juga perlu tau dan mengingat beliau, tanpa beliau kita gak mungkin bisa ngaji lancar seperti saat ini (yah.. walaupun rasa-rasanya saya belum lancar ngaji... heheh ^^v)

Akhwatmuslimah.com – Memang tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau terkena penyakit pengapuran tulang belakang, dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta selama satu setengah tahun. Penyakit inilah yang dikemudian hari membuat As’ad Humam tak mampu bergerak secara leluasa sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dalam keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud. Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).

Nama asli dari KH As’ad Humam hanyalah As’ad saja, sedangkan nama Humam yang diletakkan dibelakang adalah nama ayahnya, H Humam Siradj. KH As’ad Humam (alm) tinggal di Kampung Selokraman, Kotagede Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari 7 bersaudara. Darah wiraswasta diwariskan benar oleh orang tua mereka, terbukti tak ada satu pun dari mereka yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. KH Asad Humam sendiri berprofesi sebagai pedagang imitasi di pasar Bringharjo, kawasan Malioboro Yogyakarta. Profesi ini mengantarnya berkenalan dengan KH Dachlan Salim Zarkasyi. Berawal dari silaturahim ini kemudian KH As’ad Humam mengenal metode Qiroati.

Dari Qiroati ini pula kemudian muncul gagasan-gagasan KH As’ad Humam untuk mengembangkannya supaya lebih mempermudah penerimaan metode ini bagi santri yang belajar Al Quran. Mulailah KH As’ad Humam bereksperimen, dan hasilnya kemudian ia catat, dan ia usulkan kepada KH Dachlan Zarkasyi.

Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi, terutama untuk dimasukkan dalam Qiroati, karena menurutnya Qiroati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kedua tokoh ”berkonflik”. Sehingga pada akhirnya muncullah gagasan KH As’ad Humam dan Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca Al-Qur’an melalui metode Iqro. [sumber: majelis ribaathulmuhibbiin]


Sumber :Akhwatmuslimah.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 QadryQade'
Theme by Yusuf Fikri